Rebutan Sampah Makanan di TPA Karangasem, Kadis Gede Ngurah Saran Pakai Masker

  • Bagikan
Rebutan Sampah Makanan di TPA Karangasem, Kadis Gede Ngurah Saran Pakai Masker
Ilustrasi pemulung di TPA. Foto/surya.co.id
KEMBARA.ID,KARANGASEM-Pemandangan rebutan sisa makanan di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) Banjar Butus, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, Karangasem, kerap terlihat.

Warga yang beraktifitas sebagai pemulung, setiap hari datang ke lokasi ini untuk mengais rezeki dari aktivitas ini.

Setiap truk sampah masuk ke lokasi ini, mereka akan berebutan mengais sampah makanan yang akan dijadikan pakan ternak.

Mereka rebutan mencari dan mengumpulkan pakan ternak tersebut, kemudian dijual kepada warga.

Tidak hanya pakan ternak, melainkan barang rongsokan lainnya.

Mereka mulai bekerja sekira pukul 06.00 Wita hingga pukul 12.00 Wita.

Rata-rata para pemulung mengumpulkan tiga karung rongsokan atau pakan tiap hari, yang dijual seharga Rp 15.000.

Pembeli pun langsung berada di lokasi TPA.

Sehingga usai terkumpul, para pemulung langsung menjualnya.

Ni Wayan Resep, pemulung dari Banjar Linggasana, Desa Bhuana Giri, Kecamatan Bebandem, mengaku mencari pakan ternak babi, pakan ternak sapi, dan rongsokan.

“Ada pembeli yang datang mengambilnya,” kata Ni Wayan Resep dilansir kembara.id dari Nusa Bali, Sabtu 27 Februari 2021.

Ni Wayan Tarmi, pemulung lainnya, mengaku bekerja selama enam jam setiap hari.

Hasil pencarian di TPA berupa pakan ternak dan barang rongsokan berupa botol plastik, jirigen, dan karton langsung dijual di lokasi.

Kadis Lingkungan Hidup Karangasem, I Gede Ngurah Yudiantara mengatakan, sebanyak 78 pemulung bekerja di TPA Banjar Butus.

Dinas mengaku sangat terbantu karena para pemulung ini membantu memilah sampah botol dan plastik.

Dia memperkirakan sampah yang masuk ke TPA setiap hari sebanyak 72 ton.

Sebanyak 52 ton sampah dari kota Amlapura dan sekitarnya, sementara sisanya dari desa-desa.

“Para pemulung tanpa koordinator, mereka datang sendiri-sendiri. Saya selalu sarankan para pemulung tetap pakai masker agar saluran pernapasan tidak terganggu bau sampah,” jelas Gede Ngurah Yudiantara.(*)

  • Bagikan