Pasangan Calon Pengantin Korban Sriwijaya Air, Naik Pesawat Pakai KTP Orang Lain

  • Bagikan
Pasangan Calon Pengantin Korban Sriwijaya Air, Naik Pesawat Pakai KTP Orang Lain
53 properti dan 14 bagian tubuh korban pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ182 diserahkan KP Pelatuk. Foto/Basarnas
KEMBARA.ID, JAKARTA-Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, pada Sabtu (9/1) sekitar pukul 14.40 WIB meninggalkan duka mendalam.

Pesawat ini hilang kontak setelah 4 menit lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta.

Dalam kecelakaan pesawat tersebut, terdapat 50 penumpang dan 12 kru pesawat.

Pasca kejadian naas ini, puluhan instansi tengah bekerja keras mencari korban maupun puing-puing pesawat di laut kepulauan Seribu.

Dari jumlah penumpang ini, terdapat dua orang asal Ende Provinsi NTT. Mereka merupakan pasangan kekasih yang akan segera melangsungkan pernikahan di Pontianak. Keduanya sebagai pekerja di negeri Borneo.

Seperti dilansir Kembara.id dari detiknews, kedua pasangan ini yakni Teofilus Lau Ura dan Selfi.

Saat menggunakan jasa maskapai penerbangan ini, keduanya naik pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ182, tidak menggunakan identitas pribadi atau kartu tanda penduduk (KTP) keduanya.

Melainkan mereka menggunakan KTP milik orang lain.

Keduanya diketahui menggunakan KTP milik orang lain atas nama Feliks Wenggo dan Sarah Beatrice Alomau.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Marius Ardu Jelamu, Senin (11/1/2021), menyampaikan bahwa kedua pasangan ini berani menggunakan KTP orang lain karena biasanya proses administrasi sebelum naik pesawat akan ada pemeriksaan KTP.

“Dugaan saya, karena orang mau naik pesawat kan biasa periksa KTP. Mungkin karena itu mereka berani pakai KTP orang lain. Mereka kan pasangan yang akan menikah, kan sebenarnya harus punya KTP,” kata Marius.

Marius berharap Pemerintah Kabupaten Ende berupaya menelusuri pihak keluarga pasangan ini di Ende. Sehingga bisa mendapatkan data antemortem dan postmortem untuk kebutuhan identifikasi.

Marius juga meminta agar Bupati Ende selaku kepala daerah bisa melakukan penelusuran karena di sana yang mengetahui keluarga-keluarga korban sekaligus berkoordinasi hal apa saja yang perlu dilakukan.

“Kemudian kita harapkan juga Keluarga Besar Ende yang di Jakarta juga proaktif berkoordinasi dengan Pemkab Ende,” katanya.

  • Bagikan