Kisah Pilu Perjuangan Agen Travel Jual Paket Tur Rp 50 Ribu

  • Bagikan
Kisah Pilu Perjuangan Agen Travel Jual Paket Tur Rp 50 Ribu
Penataan destinasi wisata di Labuan Bajo oleh Kementerian PUPR. Foto/Kemenpupr
KEMBARA.ID, DENPASAR-Pandemi covid-19 membuat ambruk pengusaha travel dan pariwisata dunia.

Provinsi Bali yang hidup dari destinasi pariwisata termasuk daerah paling terdampak di Indonesia.

Destinasi wisata di Indonesia secara keseluruhan minim kunjungan karena semua negara di dunia belum sepenuhnya mengizinkan warganya keluar selama pandemi covid-19 mewabah.

Meski demikian, Industri agen travel tak kehilangan akal ditengah pandemi ini.

Mereka membuka berbagai bisnis anyar demi bisa bertahan hidup di tengah situasi serba sulit ini.

Mereka berjuang menjual paket tur seharga Rp 50 ribu.

Nilai tiketnya memang tidak besar, bahkan sangat jauh dibanding ongkos tiket dan beragam akomodasi yang perlu ditanggung ketika bepergian ke luar negeri.

Paket tur ini dikonsep para agen travel secara online atau virtual.

Setiap peserta bisa membeli tiketnya untuk mengikuti kegiatan tersebut. Untuk menjalankan kegiatannya, agen travel bakal bekerjasama dengan pemandu atau guide di negara tersebut.

Dari tiket yang dibeli peserta, maka agen travel bisa membayar pemandu wisata.

Nantinya, pemandu bakal menunjukkan berbagai tempat anyar.

“Sampai ada virtual tur, misalnya di Bosnia-Herzegovina ada virtual turnya dijual teman-teman.

Itu nggak mahal, Rp 40-50 ribu tapi jadi pemasukan tambahan lah,” kata Sekjen Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno seperti dikutip kembara.id dari  CNBC Indonesia, Rabu (2/12).

Menurut Pauline Suharno, pola ini dilakukan karena setiap agen travel membutuhkan tambahan sen untuk membayar pajak dan banyak hal lainnya.

“Karena kita benar-benar perlu every single cent (setiap sen) untuk membayar pajak segala macam,” katanya.

Dia mengatakan, virtual tur dilakukan dengan jadwal yang berbeda dengan tujuan negara yang hingga saat ini belum membuka kunjungan ke negaranya.

” Setiap minggu beda-beda jadwalnya, ada Korea, Inggris, juga ada Turki. Tapi belakangan Turki sudah nggak karena udah terbuka.

Kebanyakan negara yang belum buka turis dilakukan virtual tour,” katanya.

  • Bagikan