HEBOH, Pengakuan Sopir Bisa Loloskan Penumpang Tanpa Rapid Test di Pelabuhan Gilimanuk

  • Bagikan
HEBOH, Pengakuan Sopir Bisa Loloskan Penumpang Tanpa Rapid Test di Pelabuhan Gilimanuk
Ilustrasi Pelabuhan Gilimanuk.(Bali Tribune)
KEMBARA.ID, DENPASAR- Gelombang arus balik lebaran melalui Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali menjadi sorotan tersendiri dalam beberapa hari terakhir.

Teranyar, muncul pengakuan seorang sopir Jawa-Bali berinisial AMP.

Dirinya mengaku mampu meloloskan penumpang tanpa melalui rapid test.

Bahkan, AMP mengunggah video pada akun Facebooknya ketika membawa penumpang dari Jawa ke Bali.

Baca juga: Update 30 Mei 2020: Pasien Positif Virus Corona di Bali Bertambah 12 Orang, Transmisi Lokal Masih Dominan

Baca juga: Antrian Penumpang Menuju Bali Mengular di Terminal Sritanjung Banyuwangi

Video itu juga dibagikan pada group-group Facebook.

Dikutip dari Tribun Bali, AMP mengaku penumpangnya hanya perlu mengantongi KTP, surat sehat, dan surat jalan dari desa.

Sedangkan, rapid test di Pelabuhan Gilimanuk menjadi urusan AMP untuk meloloskan penumpangnya.

Baca juga: Pasca Kematian George Floyd, Kerusuhan Nyaris di Seluruh Amerika, Mobil Polisi Dibakar, Jalanan Diblokade

Baca juga: Video Wanita Hamil Diseret Petugas Menggunakan APD di RS Siloam Viral

Untuk meyakinkan calon penumpangnya, AMP mengaku siap mengembalikan uang tiket jika dirinya tak berhasil meloloskan penumpangnya di Pelabuhan Gilimanuk.

Terkait tarif, AMP mematok Rp 300 ribu untuk rute Jember-Bali.

“Tiketnya naik sekarang,” katanya.

Terpisah, Kadis Perhubungan Bali, IGW Samsi Gunarta mengaku telah memantau postingan tersebut.

Pihaknya tengah melakukan evaluasi untuk mengetahui kebenaran pengakuan AMP tersebut.

“Sampai saat ini kami masih mengevaluasi bagaimana mereka bisa lolos dari sistem sekat yang kita siapkan,” kata Gunarta.

Menurutnya, kemungkinan kecil bagi penumpang untuk lolos tanpa pemeriksaan di Pelabuhan Gilimanuk.

“Mungkin mereka bisa lolos di Ketapang, tapi rasanya sih akan sulit bisa lewat di Gilimanuk tanpa pemeriksaan. Lebih parah lagi bagaimana mereka akan masuk di Desa Adat di Bali. Karena hampjr seluruh Desa Adat sudah sangat ketat dalam penerimaan pendatang saat ini,” ungkap Gunarta.(*)

Simak video terkait:

  • Bagikan