Hanya dengan Kopi Bisa Kenali Orang Terinfeksi Positif Covid-19, Begini Caranya

  • Bagikan
Hanya dengan Kopi Bisa Kenali Orang Terinfeksi Positif Covid-19, Begini Caranya
Foto tangkapan latar youtube merdeka.com
KEMBARA.ID, DENPASAR-Kopi tak hanya enak dinikmati untuk penghilang rasa ngantuk.

Fungsi lain kopi ditengah pandemi covid-19 ternyata telah ditemukan para ahli.

Kopi bisa dijadikan bahan awal mendiagnosis seseorang yang terinfeksi positif covid-19.

Sebuah tinjauan pada literatur ilmiah DCN menyebut, kopi dapat digunakan sebagai barometer awal mendeteksi timbulnya infeksi Covid-19.

Semua orang tahu bahwa, Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat sudah mencantumkan jika seseorang mengalami hilangnya indra penciuman atau anosmia sebagai salah satu gejala paling umum dari Covid-19.

Dalam studi terbaru seperti dilansir kembara.id dari kompas.com, Senin (21/20/2020), hampir 80 persen orang terinfeksi positif Covid-19 terdeteksi awal dari penciuman.

Mengingat prevalensi anosmia di antara pembawa Covid-19 sangat tinggi, beberapa dokter mendesak orang-orang untuk mulai mencium aroma kopi.

“Salah satu hal yang dapat dilakukan dengan sangat mudah, secara obyektif oleh seseorang di rumah adalah dengan mengambil kopi bubuk, dan melihat seberapa jauh kita masih bisa mencium aromanya.” Demikian dikatakan Profesor James Schwob dari Fakultas Kedokteran Tufts University di Massachusetts, Amerika Serikat.

Atau menurut dia, seseorang bisa lakukan hal serupa pada alkohol dan sampo.

“Jika hidung tidak tersumbat, tapi kita kesulitan mengenal aroma lain, mungkin kita harus segera melakukan tes,” kata dia.

Direktur Smell and Taste Center di Fakultas Kedokteran Pennsylvania University, Richard Doty memberikan penjelasannya.

Menurut dia, jika seseorang menemukan kopi tidak memiliki rasa dan cokelat tidak memiliki rasa selain pahit atau manis, maka seseorang telah kehilangan penciuman.

“Saat kita mengunyah makanan, molekul naik melalui tepi rongga hidung untuk mencapai reseptor penciuman di bagian atas hidung.” ujarnya.

Peneliti menerapkan metode ini pada skala yang lebih ketat, menggunakan kopi dalam tes olfaktorius untuk penciuman.

Sementara, artikel terbaru di jurnal medis Inggris BMJ juga mendorong praktisi medis untuk menggunakan kopi sebagai alat diagnostik.

Artikel BMJ lainnya mencakup pengalaman orang pertama dari ahli saraf, Brasil Sofia Mermelstein, yang menduga dia mungkin terinfeksi virus corona setelah dia kehilangan kemampuannya mencium kacang Brasil segar.

  • Bagikan