Kapan Puncak Kasus Covid-19 di Bali? Begini Jawaban Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Bali

  • Bagikan
Kapan Puncak Kasus Covid-19 di Bali? Begini Jawaban Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Bali
Ketua Harian Gugus Tugas Percepata Penanganan Covid-19 Provinsi Bali, Dewa Made Indra (foto: Istimewa/Humas Pemprov Bali)
KEMBARA. ID, DENPASAR – Ragam spekulasi telah disampaikan beberapa petinggi negara Indonesia terkait kapan puncak sebaran virus Corona Covid – 19 di Indonesia.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, 27 April 2020, menyampaikan bahwa Presiden RI Joko Widodo meminta semua bekerja keras, disiplin dan patuh agar Juni ini bisa mampu menurunkan kasus Covid – 19,

Harapannya bulan Juli semua bisa kembali mengawali hidup normal seperti sebelum ada pandemi.

Selain itu, secara keseluruhan di tanah air, berdasarkan data covid-19, Kamis (30/4/2020), angka pasien sembuh terkonfirmasi 1522 dan angka kematian 792.

Artinya, lebih banyak pasien sembuh yang menandakan bahwa negara ini bisa melawan penyakit Covid – 19.

Rasa optimistis warga negara Indonesia makin kuat.

Di beberapa sudut kota, warga mulai keluar dengan tetap menjalankan physical distancing, mencuci tangan dengan air mengalir, menjaga kebersihan, kesehatan keluarga dan lingkungan, menjauhi keramaian. Seperti para pekerja harian, buruh, dan pegawai kantoran.

Bagaimana dengan Provinsi Bali?.

Saat ini, berdasarkan data infocorona provinsi Bali, per Kamis (30/4/2020) terkonfirmasi positif 222, sembuh 113, meninggal dunia 4, dan jumlah pasein dalam perawatan berjumlah 105 pasien.

Terkait kapan puncak Covid – 19 di Bali, Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid – 19 Bali, Dewa Made Indra mengatakan belum ada yang bisa memprediksi hal ini secara tepat.

” Tidak ada yang dapat melakukan prediksi secara tepat. Untuk menghentikan ini harus dilakukan dengan disiiplin menerapkan imbauan dan disiplin menjaga pintu masuk,” kata Made Dewa Indra.

Di lain sisi, masih bertambahnya kasus transmisi lokal di Bali, Dewa Indra menyampaikan kalau dilihat transmisi lokal berawal dari adanya PMI yang pulang tidak tertib melaksanakan karantina (yang pulang sebelum adanya pembagian tugas karantina dan melakukan karantina mandiri) .

Ini berawal dari PMI yang belum menerapkan rapid test dan juga belum ada kesepakatan pembagian tugas karantina antara Provinsi dan kabupaten/kota.

  • Bagikan